Alasan Mengapa Kita Harus Taati Aturan Pemerintah untuk Tidak Mudik Saat Lebaran

Dilansir dari Kompas, pemerintah melalui Satgas Penanganan Covid-19 telah menerbitkan pengumuman untuk memperketat persyaratan bagi yang akan mudik lebaran ke kampung halaman yang semula tanggal 6-17 Mei 2021, dilakukan addendum Surat Edaran (SE) Satgas nasional Covid-19.

Selain tanggal tersebut, juga ditambah larangan H-14 larangan mudik yakni tanggal 22 April hingga 5 Mei 2021 dan tambahan H+7 yakni 18 Mei hingga 24 Mei 2021. Adanya addendum surat edaran itu bertujuan untuk mengendalikan peningkatan pergerakan penduduk.

Sebab, berdasarkan hasil penelitian dari hasil Survey Badan Penelitian dan Pengembangan, Kemenhub RI masih ada sekelompok masyarakat akan tetap melakukan mudik pada H-7 dan H+7 masa lebaran.

Mendengar kabar di atas, memang banyak sekali dilema pada hati banyak orang (termasuk Kredimin), dimana hati ingin sekali mudik, apalagi jika kamu orang yang domisili atau besar di luar kota, pasti sudah rindu dengan kampung halaman. Apalagi larangan untuk melakukan tradisi turun-temurun ini sudah dua kali dilarang, pada tahun lalu ketika pandemi baru saja melanda dan tahun ini.

Memang apa sih, alasan pemerintah yang paling kuat untuk melarang orang-orang mudik pada tahun ini?

Kasus Melonjak Ketika Liburan Panjang

Dilansir dari IDN Times, mengingat awal kejadian wabah tahun lalu, pada saat lebaran atau Hari raya Idul Fitri tanggal 22-25 Mei 2020 terjadi lonjakan kasus Covid-19 sebesar 68 hingga 93%. Kemudian saat libur tahun baru Islam tanggal 20-23 Agustus 2020 kembali terjadi lonjakan kasus wabah sebesar 58% hingga 119%. Disambung jelang akhir tahun, pada libur Maulid Nabi Muhammad SAW tanggal 28 Oktober hingga 1 November 2020 terjadi lonjakan sekitar 37-39%.

Oleh karena itu, pemerintah perlu memberlakukan larangan mudik karena berdasarkan prediksi akan ada sekitar 11% atau sebanyak 17 juta penduduk yang berencana mudik. Dan jika mudik tidak diperketat atau dilarang, diperkirakan akan ada lonjakan sebesar 120 ribu hingga 140 ribu kasus Covid-19 setiap harinya.

Baca Juga:  5 Hal Tentang Aturan Imei Handphone BM yang Harus Diketahui

Jika melihat data-data di atas, kebijakan pemerintah atas larangan mudik seharusnya bisa dipahami oleh masyarakat. Kekhawatiran pemerintah tidak saja akan terjadi lonjakan kasus Covid-19 berdasarkan pengalaman tahun lalu, namun patut diwaspadai adanya gelombang wabah kedua seperti di India.

Belajar dari Kasus India

Pada September tahun lalu, India berada pada kasus penyebaran virus terbanyak, yaitu 96 ribu kasus per hari. Hingga pada bulan Maret kemarin, berhasil menekan lonjakan menjadi 15 ribu per hari. Sehingga masyarakat mulai menolak pembatasan sosial secara berkala karena ingin menerapkan herd-immunity.

Akan tetapi, pada bulan Maret 2021 kemarin, ada perayaan hari raya besar bagi umat Hindu di india, di mana salah satu puncak acara adalah mandi air suci di Sungai Gangga. Kamu bisa membayangkan jutaan orang terlibat dalam perayaan terbesar di India, tanpa memakai masker dan berjaga jarak.

Bahkan, orang yang melakukan mandi di Sungai Gangga percaya bahwa ritual ini bisa menyembuhkan mereka, serta menjadi obat penangkal virus Covid-19. Namun, yang terjadi malah sebaliknya, pada April 2021 Kementerian Kesehatan India mengumumkan telah terjadi gelombang wabah virus corona tak terduga di India, dengan lonjakan hampir 250.000-an kasus per hari dalam seminggu. Jumlah kasus tersebut merupakan lonjakan terbesar kedua di dunia setelah Amerika. 

Lebih Baik ke Kampung Halaman Jika Situasi Sudah Aman

Bersyukur rasanya negeri kita tidak tertimpa hal mengerikan seperti yang dirasakan oleh India. Di satu sisi sedih juga rasanya tidak bisa lebaran di kampung halaman (apalagi ini momen yang paling ditunggu para anak rantau). Namun, lebih baik mencegah daripada mengobati. Dengan mematuhi peraturan ini, kita juga membantu mencegah penyebaran virus Covid-19.

Baca Juga:  Apakah kamu siap menghadapi 'new normal' di tengah pandemi COVID-19?

Jadi, jangan sampai kecewa lebaran tidak bisa mudik, apalagi sampai-sampai menjadi perdebatan politik. Hal ini bisa menghilangkan esensi kemenangan dan silaturahmi. 

Lebih baik bersabar dulu, tetap jalin silaturahmi bersama keluarga dengan menggunakan video call, telepon maupun kirim hamper. Untuk urusan hampers, kamu bisa gunakan Kredivo untuk membeli hampers di e-commerce favorit. Biar silaturahmi terjaga, cashflow juga ikut terjaga. Juga, siapkan rencana berkunjung ke kampung halaman ketika arus bandara hingga terminal sudah mulai lengang lagi.

Tetap semangat dan jaga kesehatan ya, Kredipal!

Share this article