dolar naik _ Kredivo

Dolar AS Tembus Rp 15 Ribu: Penyebab, Dampak, dan Cara Menyikapinya

Kenaikan dolar yang sempat tembus ke angka Rp 15 ribu beberapa hari lalu sempat menimbulkan kepanikan untuk sejumlah orang. Sebelum kamu ikut panik, sebaiknya pahami dulu sebab akibat dari peningkatan nilai dolar AS tersebut. 

Sejak awal tahun 2018, nilai tukar rupiah terus melemah terhadap mata uang dolar AS. Jika di awal 2018 lalu nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sejumlah Rp 13.500, dalam beberapa hari ini, nilai rupiah terus melemah bahkan sempat menyentuh angka Rp 15.000. Menurut data Bloomberg, hingga Jumat 7 September 2018 pukul 10:25 WIB, rupiah kini berada di level Rp 14.903 per dolar AS.

Apa penyebab sebenarnya dan dampak apa yang akan terjadi pada masyarakat Indonesia dengan terjadinya hal ini? Apakah semua pihak akan rugi, atau justru ada pihak yang diuntungkan dengan kenaikan dolar terhadap rupiah? Berikut penjelasan lengkapnya yang telah dirangkum oleh Kredivo.

Bukan hanya rupiah, mata uang negara lain juga mengalami penurunan

Dolar AS merupakan mata uang internasional yang menjadi patokan pembanding oleh mata uang negara lain. Karena hal ini, kenaikan dolar AS tak hanya memicu penurunan nilai mata uang Indonesia, melainkan juga berbagai negara lainnya. Dikutip dari Reuters, sejak awal tahun hingga akhir Agustus, rupiah melemah 8,4%. Untuk periode yang sama, rupee India mengalami penurunan 10,4%, rubel Rusia 15,1%, rand Afrika Selatan 16,7%, lira Turki hingga 42,9%, dan peso Argentina hingga 51,1%. Dari data tersebut, bisa dilihat bahwa negara yang ekonominya sudah maju sekalipun bisa terkena dampak penurunan pada mata uang mereka.  

Penyebab kenapa nilai dolar AS terus meningkat

Dalam beberapa tahun terakhir, Amerika Serikat mengalami defisit perdagangan karena nilai impor AS dari jauh lebih besar dibandingkan dengan nilai ekspornya. Sejak AS berada di bawah kepemimpinan Donald Trump, ia dan kabinetnya memberlakukan kebijakan tarif dagang dengan tujuan untuk menurunkan defisit perdagangan AS.

Mulai dari 1 Juni 2018, AS mengenakan tarif pada produk baja sebesar 25% dan aluminium sebesar 10%. Tarif tersebut diberlakukan untuk semua negara yang mengekspor besi baja dan aluminium ke AS. Akhirnya, terjadilah aksi pembalasan terkait pengenaan tarif ini dari sejumlah negara yang terlibat. Tiongkok dan Uni Eropa membalas AS dengan mengenakan tarif sebesar 25% untuk berbagai jenis produk-produk AS yang masuk ke pasar mereka, serta Meksiko dan Kanada mengenakan tarif sejumlah 10% untuk produk ternak dari AS.

Perang dagang ini membuat bank sentral AS, The Fed, menaikkan tingkat suku bunga dolar AS hingga mencapai 2%, dan mengumumkan bahwa akan menaikkan suku bunga sebanyak 2 kali lagi di tahun ini. Tentu hal ini membawa dampak ke negara-negara lain di seluruh dunia. Hingga akhirnya, setelah The Fed resmi menaikkan suku bunga dolar AS, para pengusaha, investor, konglomerat dunia, hingga pemain di pasar uang dan pasar modal pun berbondong-bondong mengalihkan kekayaannya dalam bentuk dolar AS agar bisa mendapatkan bunga yang besar. Karena banyak orang yang mengalihkan hartanya dalam bentuk dolar AS, akibatnya, mata uang tersebut juga mengalami peningkatan atau apresiasi terhadap mata uang negara lain di dunia, termasuk di Indonesia.

Dampaknya bagi Indonesia

Baca Juga:  6 Filosofi Hidup yang Membuat Banyak Etnis Tionghoa Sukses dan Kaya

Sebagai salah satu negara yang terkena imbas dari peningkatan nilai dolar AS, ada beberapa dampak yang dirasakan langsung oleh masyarakat Indonesia. Harga kebutuhan yang komponennya impor, pasti akan melonjak mahal karena transaksinya menggunakan mata uang dolar AS.

Industri yang paling terkena dampaknya adalah industri elektronik, fesyen, tekstil, besi baja, farmasi, hingga ternak ayam dan sapi, karena kebanyakan industri tersebut mengandalkan bahan yang diimpor untuk produksi. Bahan bakar minyak juga merangkak naik harganya karena Indonesia masih mengimpor minyak mentah untuk memenuhi 50% kebutuhan minyak nasional. Kenaikan harga sejumlah barang tersebut pun berpotensi mendorong inflasi.

Kenaikan dolar AS juga berdampak pada utang negara yang membesar dari asumsi APBN. Utang negara Indonesia sebagian besar berbentuk dolar AS, sehingga dengan melonjaknya nilai mata uang tersebut, jumlah utang Indonesia pun otomatis lebih besar dari prediksi sebelumnya. Dalam APBN tahun 2018, pemerintah mengasumsikan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sebesar Rp 13.400 per dolar AS. Akibatnya, perkiraan keuangan negara pun banyak yang meleset.

Namun, tak semua masyarakat Indonesia akan rugi karena hal ini. Beberapa pihak justru akan diuntungkan, misalnya saja eksportir yang target pasarnya adalah konsumen luar negeri. Meskipun mereka menjual barang dengan harga yang sama, selisih dolar terhadap rupiah bisa menjadi keuntungan. Melemahnya daya konsumsi impor juga bisa membuat barang lokal berjaya di negara sendiri. Tak hanya itu, sektor pariwisata juga akan mendulang untung. Biaya hidup yang relatif lebih “murah” di Indonesia, akan mendatangkan turis-turis dari mancanegara.

Kebijakan pemerintah untuk menangani pelemahan rupiah

Pemerintah tentunya tak tinggal diam dan sudah mengambil sejumlah langkah untuk mengurangi dampak negatif dari kenaikan dolar AS ini. Beberapa di antaranya adalah menerapkan kebijakan biodiesel (B20), dimana solar murni tidak lagi dijual dan digantikan dengan solar yang bercampur minyak kelapa sawit 20%, menggenjot sektor pariwisata dengan menargetkan kenaikan jumlah turis mancanegara hingga mencapai 20 juta orang di tahun depan, dan menunda pelaksanaan proyek infrastruktur yang belum mencapai tahap penyelesaian pembiayaan. Pemerintah juga menaikkan pajak penghasilan menjadi 10% untuk barang-barang impor, khususnya untuk barang konsumsi.

Apa yang harus dilakukan?

Baca Juga:  5 Zodiak Ini Berpotensi Besar untuk Kaya Raya, Kamu Salah Satunya?

Tak perlu panik untuk menyikapi kenaikan nilai dolar AS, karena masih banyak hal yang bisa dilakukan dalam kondisi seperti ini. Bagi kamu yang gemar belanja produk impor, disarankan untuk mengeremnya untuk sementara waktu hingga harga rupiah terhadap dolar AS kembali stabil. Bagi pelaku UMKM yang mengandalkan bahan baku impor, disarankan untuk mencari opsi bahan baku lain untuk menekan produksi.

Jika kamu mau berinvestasi, sebaiknya investasi di instrumen yang tak begitu terdampak dengan kenaikan dolar, misalnya investasi emas dan surat utang negara. Apabila kamu perlu membeli barang yang mengalami kenaikan harga karena terkena dampak naiknya harga dolar AS, seperti barang elektronik misalnya, kamu bisa memanfaatkan cicilan dengan bunga rendah dari Kredivo, supaya pembayaranmu bisa lebih ringan.

Demikian penjelasan tentang penyebab, dampak, dan cara menyikapi kenaikan nilai dolar AS. Dengan mengetahui hal-hal tersebut, semoga kamu bisa memahami sebab akibat dari isu yang sedang hangat ini, dan menyikapinya dengan tepat.

Share this article