utang produktif_kredivo

Kenali Beda Utang Produktif dan Konsumtif agar Tidak Boros

Apa kamu merasa boros, tidak bisa menabung dan punya banyak utang? Padahal utang itu merupakan suatu tanggung jawab dimana selaku debitur, kamu memiliki kewajiban untuk membayar sejumlah uang yang kamu pinjam di masa depan.

Punya utang sebetulnya wajar-wajar aja, hanya saja jika porsi utang terlalu besar ketimbang pendapatan, tentunya hal ini dikhawatirkan akan membuat kamu makin sengsara, menjadi stress, bahkan ada juga yang sampai nekad berbuat kejahatan demi membayar utangnya atau yang ekstrim lagi yakni mengakhiri hidup karena tidak sanggup bayar utang.

Lantas, bagaimana cara menjaga agar utang yang kita miliki tergolong utang yang sehat? Berikut ulasan seputar beda utang produktif dan konsumtif yang wajib kita ketahui sebelum memutuskan untuk menambah nilai utang lagi.

Utang Produktif dan Konsumtif, Apa Bedanya?

Secara umum berdasarkan tujuan penggunaannya, utang dibagi menjadi dua jenis yaitu utang produktif dan utang konsumtif.

Utang produktif yaitu utang yang tujuan peminjamannya adalah untuk mendapatkan manfaat finansial (keuntungan). Sebagai contoh, ketika kamu pinjam uang secara online melalui cermati.com dengan tujuan mendapatkan atau menambah modal usaha/bisnis, maka jenis utang yang kamu pinjam tersebut dikategorikan sebagai utang produktif.

Kenapa bisa disebut produktif? Sebab keuntungan yang dihasilkan dari kegiatan bisnis yang dibuat atas pinjaman KTA online tersebut juga dapat digunakan untuk melunasi pinjaman secara bertahap.  Meski utang sudah lunas, kamu masih tetap memiliki bisnis yang berjalan dan menghasilkan keuntungan untuk memenuhi kebutuhan hidup kamu sehari-hari.

Utang konsumtif yaitu kebalikan dari utang produktif, yaitu utang yang tujuan peminjamannya tidak memberikan manfaat finansial secara langsung untuk dapat melunasi utang tersebut.  Contoh saja, kamu mengajukan cicilan tanpa kartu kredit di Kredivo untuk membeli sebuah iPhone X, padahal smartphone yang kamu punya saat ini masih dalam kondisi bagus.

Kenapa bisa disebut konsumtif? Sebab dana pinjaman digunakan untuk pembelian yang bisa  dibilang tidak dapat mendatangkan manfaat finansial (keuntungan) secara langsung, belum lagi aset smartphone atau gadget lain nilainya akan berkurang seiring dengan munculnya gadget keluaran terbaru setiap tahunnya.

Hindari Utang Berlebih, Ketahui Hal Ini

Ada dua hal mengapa seseorang bisa terjerat utang hingga jatuh miskin.  Pertama adalah tidak teliti terhadap syarat dan ketentuan utang, seperti biaya bunga dan tanggal jatuh tempo.  Sehingga, secara otomatis jumlah uang yang harus dibayarkan menjadi lebih banyak.  Kedua, adanya kesalahan pemanfaatan utang, yaitu menggunakan pinjaman untuk digunakan pada kegiatan konsumtif seperti yang dicontohkan di atas.

Cek ini Sebelum Berutang

  1. Perhitungkan dulu apakah penghasilan/pendapatan kamu akan cukup untuk membayar utang. Normalnya, batas maksimum utang atau cicilan adalah sebesar 30% dari penghasilan bulanan. Untuk ini, sebelum berutang, hitung-hitung dulu ya!
  2. Pastikan cek dulu apa aset yang dimiliki akan cukup untuk membayar sisa utang apabila suatu hari tidak bisa membayar lagi cicilannya. Ini berlaku bagi yang ingin berutang dalam jumlah besar.
  3. Cek besaran bunga terhadap pinjaman yang ditawarkan karena bila bunga pinjaman sangat besar, bisa memberatkan keuanganmu nantinya. Pikir-pikir dulu kalau mau menambah utang, jangan tergiur dengan dana cepat cair atau pinjaman tanpa jaminan tapi bunga kredit sangat besar.
Baca Juga:  5 Peluang Bisnis Moncer di Tahun 2019, Calon Entrepreneur Wajib Tahu

Intinya, berutang itu wajar asalkan kamu memilih utang produktif dan menjaga agar keuangan tetap sehat meski berhutang. Pilihan ada di kamu ya!  

 

 

Share this article