keuangan pernikahan

Tentang Keuangan Setelah Pernikahan, Menjalaninya Tak Semanis Duduk di Atas Pelaminan

Bicara soal pernikahan, jika kamu sudah ada di umur 25 tahun ke atas, pasti suka ditanya, “kapan nih?” sama orang tua, om, tante atau tetangga. Walaupun pertanyaannya tidak memiliki subjek, tapi kamu pasti tahu apa maksud dari pertanyaan tersebut, yang hasilnya membuat kamu tersenyum-senyum saja sambil mengucapkan,”doain aja, om, tante.”

Mungkin pertanyaan iseng ini bisa jadi batu loncatan kamu untuk segera merencanakan pernikahan. Rencanakan saja dulu, mulai dari hal yang paling dasar, yaitu mental dan finansial. Sebab, 2 hal ini adalah pondasi yang saling berkaitan bagi seseorang untuk menjalani sebuah rumah tangga. Jika nanti ada permasalahan finansial, kamu harus siap-siap mental yang kuat untuk menghadapinya.

Ditambah lagi, dilansir dari Suara, konsultan keuangan, Andreas Hartono menjabarkan hasil survei mengejutkan, bahwa setengah dari kasus perceraian yang ada di Indonesia terjadi karena permasalahan finansial. Hasil survei yang dilakukan oleh WeCan, menjabarkan bahwa 65% pasangan di Indonesia tidak terbuka dalam masalah keuangan . Akibatnya, 47% konflik rumah tangga didominasi oleh masalah finansial dalam keluarga.

Teruntuk kamu yang sudah memiliki pasangan maupun belum punya pasangan, tidak ada salahnya untuk tahu apa saja yang akan terjadi dan bagaimana nanti kamu mengatasi berbagai permasalahan finansial yang terjadi dalam mempersiapkan, sampai menjalani rumah tangga.

Biaya Pernikahan

Mungkin bagi perempuan, ada yang berpikir bahwa seluruh biaya pernikahan ditanggung oleh pihak laki-laki atau jika kamu mengeluarkan biaya, orang tua siap membantu. Namun, buang jauh-jauh ekspektasi tersebut, apalagi jika kamu memiliki pernikahan impian yang sudah dicita-citakan sejak kecil.

Cobalah untuk belajar menyisihkan uang, menabung untuk biaya pernikahanmu. Atur bujet berapa besar pernikahan kamu dan sesuaikan dengan pendapatan kamu sekarang. Misalkan, bujet pernikahan kamu sebesar Rp100 juta, dengan pendapatan kamu sebesar Rp5 juta. Jika Anda berniat membagi biaya ini setengah-setengah bersama pasangan, kamu bisa menabung Rp2 juta per bulan, sehingga 2 tahun kemudian kamu bisa mendapatkan tabungan yang cukup untuk pernikahan.

Baca Juga:  3 Film Drama Korea ini Mengajarkan Bahwa Dana Darurat itu Sangatlah Penting

Atau, kalau kamu sudah mengumpulkan uang, namun hasilnya tetap kurang, tenang saja, Kredivo gak kemana-mana, kok. Siap membantu kamu untuk menambal bujet yang pernikahanmu yang kurang dengan bunga rendah dan cicilan yang fleksibel.

Jika membicarakan soal bujet pernikahan, usahakan untuk mandiri dan tidak bergantung orang tua, agar ketika kamu sudah menjalani kehidupan berumah tangga, kamu jadi terbiasa untuk tidak bergantung oleh orang tua. Bahkan, ketika kamu berumah tangga, kamu sudah mulai memberikan uang jajan ke orang tua kamu, lho!

Siapa yang Akan Bekerja

Nah, jika kamu sudah berniat untuk serius ke pasangan kamu, sebaiknya hal ini didiskusikan dari awal. Memang, ekspektasi berkata kalau seorang istri lebih baik di rumah saja, mengurus suami, dan anak-anak kelak. Jika pendapatan suami dirasa sudah cukup untuk standar hidup keluarga, kamu mungkin bisa berpikir seperti ini.

Namun, patut diingat bahwa kamu bukan Rafathar yang terlahir sudah lebih dari kata cukup. Ada kondisi yang mengharuskan seorang istri juga harus bekerja untuk membantu menopang perekonomian rumah tangga jika pendapatan suami tidak mencukupi standar hidup rumah tangga kalian. 

Apalagi ketika kamu belum memiliki momongan, bekerja adalah pilihan terbaik supaya bisa mengumpulkan uang lebih banyak. Jadi, kondisi keuangan keluarga saat buah hati lahir tetap stabil.

Ekspektasi Finansial

Ini juga tidak kalah penting dari berdiskusi siapa yang akan bekerja ketika sudah berumah tangga. Ekspektasi finansial ini meliputi kebutuhan diluar kebutuhan dasar atau kebutuhan sekunder dan tersier yang bisa meningkatkan taraf hidup seseorang. Contoh, memiliki mobil, memiliki motor, memiliki rumah, ingin pergi honeymoon kemana, dan lain sebagainya.

Kamu bisa mendiskusikan standar hidup kamu bersama pasangan sebelum menikah. Apakah kamu membutuhkan mobil? Atau motor saja cukup, jadi kamu lebih mengutamakan rumah? Apakah kamu ingin memiliki anak dekat-dekat ini? Kalau iya, akan berencana melahirkan di rumah sakit mana? Bagaimana kondisi keuangannya?

Baca Juga:  Ini Bedanya Akun Sosial Media Kredivo Asli dengan yang Palsu

Semua ini harus dibicarakan dengan kepala dingin. Atur ekspektasi kamu dengan keadaan finansial kamu sekarang. Jangan sampai kamu tidak bisa mengatur keuangan kamu ketika menjalani rumah tangga nanti.

Siapa yang Mengatur Keuangan

Pada umumnya, istri biasanya mengelola seluruh keuangan dalam rumah tangga. Namun, tidak semua rumah tangga memberlakukan ini. Apalagi jika sang istri terkesan boros, terkadang suami yang mengatur seluruh keuangan dalam rumah tangga. 

Jika memang sang istri yang mengaturnya, suami juga harus ikut campur dan update tentang keuangan dalam keluarga. Hal ini bertujuan agar suami bisa melihat apakah ada pengeluaran yang tidak penting dan mendiskusikannya ke istri.

Hal ini lebih baik dibicarakan sebelum menikah, apakah calon suami memberikan semua pendapatannya ke calon istri lalu dikelola bersama-sama atau hanya memberikan jatah bulanan saja? Semua harus dibicarakan bersama, sebab sejatinya hal ini merupakan tanggung jawab bersama dan dampak baik serta buruknya juga harus ditanggung bersama-sama. 

Jujur Soal Keuangan

Jangan pernah berbohong kepada calon istri atau suami tentang keadaan finansial kamu sekarang. Jika sebelum kamu menikah tetapi memiliki beberapa cicilan, cobalah untuk membicarakannya ke pasanganmu dan berdiskusi tentang bagaimana cara kalian berdua mengatasi hal ini. Sebab, jika kalian sudah menikah, tanggung jawab ini sudah dibebankan bersama-sama, bukan hanya seorang diri.

Apalagi permasalahan pendapatan bulanan, beri tahu seluruh pendapatan kamu, jangan menyembunyikan gaji atau sampingan yang kamu peroleh. Sebab, hal-hal ini bisa memicu pertengkaran dalam rumah tangga yang merusak keharmonisan keluarga kamu kelak.

Realistis dan Impian Harus Seimbang

Haduh, ngayal emang enaknya kebangetan, ya. Ngayal soal nikahan, hidup happy bareng suami dan anak, jalan-jalan bareng keluarga dan lain sebagainya. Namun, kamu harus tahu yang mana impian, yang mana “ngayal babu” saja. Sebab, ketika kamu sudah berumah tangga, impian-impian kamu harus dibarengi dengan pikiran yang realistis.

Baca Juga:  Tips Mempersiapkan Liburan Aman dan Nyaman di Tengah Pandemi

Bukan berarti Kredimin melarang kamu menghayal yang tinggi, ya. Memiliki impian itu penting, tapi ingat, kebutuhan pokok lebih penting lagi. Oleh karena itu, jika kamu memiliki impian memiliki rumah sendiri, silakan menghayal memiliki rumah seperti Raffi Ahmad yang besar dan luas. Tetapi impian tersebut akan berhenti jika kamu memiliki standar rumah seperti Raffi Ahmad.

Oleh karena itu, impian yang realistis adalah memiliki rumah sesuai kemampuan kamu sekarang. Jika kamu nanti kamu mendapatkan rezeki tambahan, coba upgrade lagi rumah kamu, terus lakukan seperti ini sampai impian kamu terwujud.

Realistis dengan keadaan sekarang, bersyukur dengan apa yang kamu miliki, fokus untuk mencapai tujuan hidup kamu, niscaya kamu akan mendapatkan kemerdekaan finansial di keluarga kamu.

Share this article

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *