resolusi tahun baru _ kredivo

3 Alasan Kenapa Kamu Nggak Butuh Resolusi Tahun Baru

Resolusi tahun baru seringkali gagal terwujud dan cuma jadi wacana semata. Daripada bikin daftar resolusi, sebaiknya kamu lakukan hal ini.

Memasuki tahun 2019, sebagian besar orang mulai merencanakan resolusi yang harus dicapai di tahun baru. Kira-kira, apakah daftar resolusi tersebut efektif untuk mencapai target hidup?

Sayang sekali, jawabannya tidak. Penelitian dari University of Scranton menunjukkan bahwa hanya 8% orang yang bisa memenuhi resolusi tahun baru yang mereka buat. Selain karena hasil penelitian tersebut, masih ada beberapa alasan lain yang menyadarkan kamu bahwa resolusi nggak begitu diperlukan!

1. Secara alamiah, resolusi bisa bikin otak capek

Ketika kamu membuat daftar resolusi, sejumlah besar tekad dibutuhkan, dan inilah yang membuat bagian prefrontal cortex pada otakmu lelah. Menurut Prof. Baba Shiv, seorang profesor yang ahli di bidang neuroekonomi, “Banyaknya hal yang harus diingat akan menyita ruang di otak, sehingga otak menolak sesuatu yang terkesan banyak.”

Bagian prefrontal cortex bekerja seperti otot di tubuh ketika sedang mengangkat beban. Jika kamu mengangkat beban 150 kg tanpa latihan sebelumnya, tentu otot akan kaget sehingga timbul rasa nyeri. Begitu pula jika kamu langsung membuat deretan daftar resolusi sekaligus. Bukannya memicu motivasi, otak justru akan menolaknya.

2. Resolusi nggak akan terwujud tanpa dilakukan bersamaan dengan kebiasaan

Resolusi memang bisa memotivasi diri. Namun, kebanyakan orang membuat resolusi tanpa siap mengubah kebiasaan. Misalnya seseorang yang memiliki resolusi untuk menurunkan berat badan dan bertekad mulai rutin berolahraga.

Tapi ketika hal yang diimpikan nggak terjadi secara instan, mereka akan merasa sia-sia dan kembali menjalani kebiasaan lama. Padahal, perubahan nggak terjadi hanya dalam semalam, melainkan melalui langkah-langkah kecil yang konsisten dalam jangka waktu panjang. Untuk membuat perubahan yang permanen, mulailah dengan melakukan kebiasaan-kebiasaan kecil yang akan membuat dirimu lama-lama terbiasa.

3. Resolusi hanya membuatmu fokus pada hasil, bukan proses

Dengan membuat daftar resolusi, kamu akan lebih terfokus dengan hasil, bukan pada proses. Ketika hasilnya kurang memuaskan, banyak yang memilih untuk menyerah dan berhenti melakukannya lagi. Misalnya kamu ingin menabung lebih banyak tahun ini. Kamu menargetkan menabung sebanyak Rp50.000 per hari, tapi kenyataannya kamu hanya bisa menabung Rp20.000.

Sebenarnya kamu sudah melakukan sebuah pencapaian, tapi karena nggak sesuai targetmu, kamu malah berhenti. Padahal, kamu harus menikmati dan menghargai proses, sehingga tujuan yang sudah direncanakan pun bisa diraih meski membutuhkan waktu dan usaha bertahap.

Daripada bikin daftar resolusi, sebaiknya kamu lakukan hal ini

Daripada kamu terpaku pada daftar resolusi dan akhirnya malah merasa terbebani, sebaiknya buat daftar target dengan konsep SMART (Specific, Measurable, Achievable, Relevant, Time-Bound). Konsep yang dicetuskan pada tahun 1981 ini memang terkenal untuk merumuskan tujuan secara efektif. Seperti apa sih konsep SMART jika dikaitkan dengan tujuan hidup?

Specific – Deskripsikan target tahun ini dengan benar-benar jelas. Misalnya untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Terlalu umum kan? Ganti kata lebih baik menjadi hal spesifik seperti jadi relawan, berdonasi setiap bulan, atau melakukan hal baik lainnya sesuai versimu.

Measurable – Kalau target sudah cukup spesifik, kamu juga harus bisa mengukurnya. Mau kurus dengan menjalani diet? Berapa kali kamu harus olahraga dalam satu minggu? Berapa biaya yang dibutuhkan untuk mendukung program dietmu? Semua harus terukur dengan jelas. Catat juga setiap kemajuan untuk tahu sudah seberapa dekat kamu dengan tujuanmu tersebut.

Achievable Achievable bukan cuma soal bisa tercapai atau tidaknya target hidupmu, tapi untuk mengukur kemampuanmu dalam menjadikan target tersebut prioritas. Sebab, ketika kamu ingin mencapai sesuatu, maka hal tersebut harus jadi prioritas supaya bisa segera tercapai. Untuk itu, kamu bisa mulai dengan mengambil langkah kecil.

Baca Juga:  3 Pelajaran Keuangan dari Serial Game of Thrones

Realistic – Sebuah target harus didasari oleh dua hal: kemauan dan kemampuan. Pahami juga kemampuanmu untuk mencapainya. Misalnya kamu seorang karyawan biasa yang mau berbisnis. Tentu nggak realistis kalau kamu mau langsung berbisnis skala besar, saat modal pun masih belum memadai. Kamu bisa manfaatkan Pinjaman Tunai yang ditawarkan Kredivo untuk tambahan modal. Jika diperhitungkan dengan matang perputaran uangnya, bisnismu bisa tumbuh secara sehat meski dengan modal terbatas!

Timely – Buatlah target harian, mingguan, bulanan, hingga tahunan untuk membantumu mengontrol rencana tujuan. Jadikan timeline tersebut bahan evaluasi untuk melihat pencapaianmu. Misalnya kamu mau berhenti merokok. Mulai dengan satu rokok per hari, satu rokok per minggu, satu rokok per bulan, sampai akhirnya kamu benar-benar berhenti merokok.

Ada atau tidaknya daftar resolusi, semua nggak akan jadi masalah selama kamu punya rencana yang jelas dan spesifik untuk mewujudkan target hidupmu satu per satu.

Jadi, sudah siap untuk mewujudkan mimpimu di tahun ini?

Share this article