hedonic treadmill bikin kita makin boros saat naik gaji.

Naik Gaji? Jangan Sampai Terjebak Hedonic Treadmill

Yeay, gajian sudah di depan mata! Inilah momen paling ditunggu-tunggu oleh pekerja seantero Indonesia. Apalagi bagi mereka yang baru naik gaji, pasti makin nggak sabar menunggu saldo ATM yang makin meroket.

Wajar saja kalau naiknya penghasilan berpengaruh kepada level kebahagiaan kita. Akan lebih banyak kebutuhan (dan keinginan) yang terpenuhi berkat uang yang lebih banyak. Kamu bisa makan di restoran dan beli beragam model baju buat ngantor. Tentunya hal itu bikin kamu lebih bahagia, bukan?

Tapi, lain cerita jika naik gaji dibarengi oleh naiknya standar kebahagiaan kamu.

Ketika naik gaji, kamu akan tergoda untuk menaikkan gaya hidup kamu. Gaji naik berarti sepatu kamu harus yang branded. Gaji naik berarti frekuensi nonton konser bisa lebih sering. Gaji naik berarti kamu perlu punya gadget keluaran terbaru. Saat sederet ekspektasimu belum terpenuhi, kamu akan selalu merasa kurang.

Apa kamu merasakan hal itu? Kalau iya, kamu sedang terperangkap hedonic treadmill.

Apa sih hedonic treadmill itu?

Coba deh, kamu flashback ke masa-masa pekerjaan pertamamu. Gaji di kantor pertama  mungkin nggak terlalu besar, sebut saja hanya Rp 3-4 juta per bulan. Namun, kamu tetap bisa mencukupi semua kebutuhanmu, beli baju baru, mentraktir makan kedua orang tuamu, dan menabung sebesar 30 persen gajimu.

Kini gajimu makin menanjak tinggi. Dua tahun bekerja, nominalnya mencapai Rp 6 juta. Standar hidup kamu pun ikut naik. Kamu nggak puas dengan koleksi bajumu yang sekarang, sehingga kamu berbelanja model terbaru. Tiba-tiba saja kamu membeli laptop yang fiturnya lebih canggih karena kamu merasa membutuhkannya. Namun, ketika gajimu naik lagi, kamu merasa nggak bahagia memiliki semua itu karena ingin membeli barang-barang lainnya.

Hedonic treadmill menggambarkan kondisi psikologis di atas, di mana kamu selalu nggak puas dengan apa yang kamu miliki. Penghasilamnu yang makin naik diiringi pula dengan meningkatnya ekspektasi atas kebahagiaanmu.

Hayo…. Apakah kamu terjebak hedonic treadmill?

Baca Juga:  Atur Keuangan Agar Bisa Nonton Konser Musik Incaran

Banyak orang terjerumus pada keyakinan bahwa meningkatkan standar hidup akan meningkatkan rasa bahagia mereka, tapi nyatanya semua itu semu.

Tanyakan pada diri, apa kamu merasa cukup dengan gaya hidupmu saat ini? Atau, kamu merasa perlu mengikuti tren terbaru? Membeli barang terbaru? Jika kamu belum merasa puas, berarti kamu terjebak hedonic treadmill.

Ciri berikutnya dari orang yang terjebak hedonic treadmill adalah arus kas yang tidak sehat. Pengeluaranmu tidak akan terkontrol karena kamu hanya fokus menghamburkan uang demi memenuhi gaya hidupmu. Menabung pun akan menjadi prioritas sekian, sehingga kamu cenderung tidak punya dana darurat.

Terus, gimana caranya lepas dari jebakan Hedonic Treadmill?

Kalau kamu memang sungguh-sungguh ingin lepas dari hedonic treadmill, 3 tips ini bakal menolongmu:

  1. Atur keuangan dengan lebih baik

Alokasi penghasilanmu berantakan dan terfokus untuk berfoya-foya? Coba atur keuangan dengan sistem 40-30-20-10. Saat dapat gaji bulanan, alokasikan 40 persen penghasilan untuk kebutuhan pokok harian, seperti biaya makan dan transportasi, 30 persen untuk bayar utang dan cicilan, 20 persen untuk ditabung dan investasi, dan sisa 10 persennya bisa digunakan untuk bersenang-senang.

Kalau kamu mengaplikasikan strategi ini dengan ketat setiap bulannya, dijamin kebutuhan bulananmu aman dan kamu masih bisa menabung.

Nah, supaya cashflow kamu tetap terjaga hingga gajian bulan depan, andalkan metode pembayaran secara kredit dengan kartu kredit digital Kredivo. Selain bunganya yang rendah, tenornya pun beragam. Kamu bisa membeli barang dengan tenor cicilan sesuai kemampuanmu. Semakin lama tenornya, semakin kecil pula tagihan per bulannya. Tapi ingat, kamu harus berbelanja dengan bijak ya, jangan sampai kebablasan.

  1. Tentukan tujuan keuanganmu

Jika gajimu habis hanya untuk hura-hura dan memuaskan lifestyle-mu saja, kamu akan terjebak selamanya. Kecuali, kamu punya tujuan keuangan yang jelas.

Lebih baik, tentukan tujuan keuanganmu dengan matang pada hal-hal yang konkret, misalnya,  tahun ini kamu harus punya saham, tiga tahun lagi sudah harus punya rumah sendiri, melanjutkan pendidikan, atau menikah tahun depan. Dengan begitu, kamu punya “alarm” ketika sudah mulai kebablasan.

  1. Kendalikan hasrat konsumtif kamu
Baca Juga:  6 Hal yang Nggak Pernah Dilakukan Perempuan Sukses

Akhirnya, semua kembali lagi ke kamu. Kamulah yang memegang kendali atas hasratmu. Naik gaji adalah prestasi yang keren, tapi kamu harus bisa memanfaatkannya dengan bijak. Naik gaji bukan berarti harus makin konsumtif. Kalau begitu ceritanya, gajimu cuma numpang lewat dan kamu akan selalu merasa kurang bahagia. Lagipula, bahagia nggak cuma soal uang dan gaya hidup mewah, kan?

Selamat merayakan gajian, Kredipal! Naik gaji ataupun tidak, jangan lupa untuk stay sane dengan pengeluaranmu ya! Untuk tips-tips keuangan seru lainnya, pantengin terus blog Kredivo.

Share this article