Privilege Maudy Ayunda - Kredivo

Tentang “Privilege” dan Nasib Kesuksesan Seseorang

Dari kisah Maudy Ayunda, banyak yang mengira bahwa kesuksesannya hanya karena ‘privilege’ semata.

Baru-baru ini, kegalauan Maudy Ayunda bikin heboh lini masa media sosial. Bukan, dia bukan galau karena masalah cinta layaknya orang seusianya. Gadis 24 tahun ini tengah kebingungan karena karena dirinya diterima sekaligus di dua kampus ternama untuk melanjutkan pendidikan S-2: Harvard dan Stanford.

Tentu saja, banyak orang -yang meskipun bukan siapa-siapanya- ikut bangga dengan pencapaian penyanyi sekaligus aktor tersebut. Tapi, nggak sedikit juga yang ‘nyiyir’ dan merasa bahwa keberhasilan Maudy Ayunda semata-mata hanya karena dia punya ‘privilege’. Dikutip dari Cambridge Dictionary, definisi kata privilege adalah keuntungan yang dimiliki oleh seseorang atau sekelompok orang, biasanya karena posisi yang dimiliki atau karena kekayaan.

Nggak dipungkiri, orang dengan privilege punya peluang sukses lebih besar

Maudy Ayunda dikenal sebagai figur publik yang cantik, multitalenta, dan punya riwayat akademik yang cemerlang. Tapi nggak bisa dipungkiri kalau ia memang punya privilege untuk bisa berada di posisinya saat ini. Perlu dicatat bahwa Maudy merupakan lulusan sekolah internasional yang menggunakan sistem pendidikan berbeda dengan sekolah negeri.

Dari situ kita bisa menyimpulkan, bahwa pelantun lagu ‘Tahu Diri’ ini memang datang dari keluarga yang terbilang berada. Orang tua Maudy mampu menjamin biaya pendidikan, memberikan fasilitas memadai, menjamin asupan gizi, hingga kemudahan akses informasi, yang membuat probabilitas Maudy untuk menjadi sosok cemerlang seperti ini lebih tinggi. Punya privilege memang nggak menjamin kesuksesan seseorang, tapi jelas kemungkinannya akan lebih besar. Dan faktanya, nggak semua orang punya peluang yang sejajar.

Meskipun privilege menjadi salah satu faktor keberhasilan, semua orang tetap punya jalan

Mungkin fakta tersebut terdengar kurang adil, tapi terlahir dengan privilege adalah sebuah hal yang nggak bisa kita pilih. Ada yang terlahir dengan banyak kemudahan dan akses finansial, ada juga yang harus bekerja banting tulang untuk sekadar memenuhi kebutuhannya. Tapi bukan berarti pandangan akan privilege seseorang membuat kita sering mengeluh dan merasa iri dengan mereka yang memang terlahir kaya, seperti netizen yang hanya bisa ‘nyinyir’ dengan kesuksesan Maudy Ayunda. “Ah, dia kan kaya dari lahir, wajar lah kalau bisa sukses”.

Nyatanya, nggak semua anak-anak orang kaya itu manja, selalu bergantung dengan orang tua, atau bahkan nggak tau makna perjuangan. Lahir di keluarga yang kekurangan pun nggak lantas membuat kita jauh dari kata sukses. Justru ketika menyadari adanya tingkatan privilege seperti itu, kita bisa termotivasi dan bekerja keras untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Seperti kata wali kota Surabaya Tri Rismaharini, “Semua orang layak berhasil karena Tuhan itu adil.” Meskipun jalan menuju kesuksesan dan kekayaan setiap orang akan berbeda, dan meskipun privilege menjadi salah satu faktor menuju keberhasilan, semua orang pasti tetap punya jalan.

Pada akhirnya, kita juga bisa membangun privilege sendiri

Jack Ma, miliarder asal Tiongkok, adalah salah satu contoh tokoh sukses yang bukan berasal dari keluarga dengan privilege. Sebelum sukses seperti sekarang ini, Jack Ma hanyalah seorang guru miskin sekaligus penerjemah bahasa Inggris. Kerja kerasnya lah yang membuat ia bisa memberikan privilege kepada keturunannya.

Begitu juga dengan kita, jika orang tua belum bisa memberikan itu, maka berusahalah untuk membangun privilege untuk diri sendiri dan keturunan kita kelak. Kita bisa memulai membangun privilege tersebut dengan mengubah pola pikir.

Mengubah pola pikir, cara awal untuk punya nasib sukses

Seperti yang ditulis Steve Siebold dalam bukunya How Rich People Think, untuk menjadi kaya, kita harus belajar berpikir seperti orang kaya. Begitu pola pikir tersebut tertanam, uang pun bisa mulai mengalir. Seperti apa sih pola pikir orang kaya tersebut?

Harus berani keluar dari zona nyaman

Ketika kita menginginkan hidup yang lebih layak, artinya kita harus siap keluar dari zona nyaman. Ambil pekerjaan yang lebih menantang, jangan cepat puas dengan apa yang telah dihasilkan. Tanamkan pikiran bahwa kita ingin tumbuh lebih besar, sehingga harus terus menantang diri sendiri.

Jangan bergantung dengan satu pendapatan

Orang kaya nggak akan bergantung dengan satu sumber penghasilan. Faktanya, 65% orang kaya paling nggak punya tiga aliran pendapatan sebelum menghasilkan pendapatan bernilai tinggi pertama mereka. Nggak heran kan kalau Maudy Ayunda masih nerima banyak job iklan, main film, dan nyanyi di sana-sini.

Punya gaya hidup sederhana

Hampir semua pengguna internet tahu kalau Mark Zuckerberg, si pemilik Facebook, punya gaya hidup yang sederhana. Padahal dengan kekayaan yang dimilikinya, Zuckerberg bisa saja beli rumah mewah, kendaraan super canggih hingga barang branded dari ujung kepala hingga kaki. Kalau Mark Zuckerberg yang punya privilege saja memilih untuk hidup sederhana, kenapa kita nggak?

Baca Juga:  Mau Menaikkan Limit Kredivo? Ini Caranya!

Kredivo merupakan layanan pinjaman online yang memberikan limit kredit mencapai Rp30.000.000, yang bisa digunakan untuk belanja di 200+ e-commerce rekanan Kredivo, dan dicairkan dalam bentuk dana tunai. Transaksi di Kredivo terjamin keamanannya, karena Kredivo telah terdaftar di OJK dan menggunakan sistem enkripsi yang melindungi seluruh data nasabah.

 

Share this article